Cara Mendapatkan Buku Gratis Agar Tidak Membeli Buku Bajakan

Dari waktu ke waktu problematika pembajakan buku tak pernah lepas dari pembahasan. Seperti beberapa pekan yang lalu saat publik digegerkan dengan status Facebook Tere Liye yang bersuara keras mengkritik para pembajak buku dan penikmat buku bajakan. Pernyataan Tere Liye lantas viral di media sosial dan memanas di Twitter. Pasalnya, ada kata-kata yang dianggap terlalu vulgar dan tidak pantas dalam pernyataan yang dilontarkan penulis buku "Hujan" tersebut. Sehingga menimbulkan pro dan kontra yang menjadikannya trending di lini masa.

Sebetulnya, tidak hanya sekali dua kali Tere Liye mengkampanyekan pembelian buku original di media sosialnya. Bahkan seringkali ia menggunakan kalimat-kalimat yang halus dan sopan. Akan tetapi, nyatanya pembajakan buku tak juga berkurang, pernyataannya yang lembut tak diperhatikan, dan tak banyak mengubah keadaan. Bahkan kini di era digital, buku-buku bajakan diobral dengan harga sangat murah di marketplace ternama. Tentu saja sebagai penulis yang bukunya banyak dibajak, ia semakin geram dan mengkritisi dengan sangat keras di kemudian hari.

Tak hanya Tere Liye, penulis lainnya seperti Phutut EA juga memberikan statementnya yang sangat menyentil nurani. Berbeda dengan Tere Liye, penulis buku "Cinta Tak Pernah Tepat Waktu" itu menggunakan bahasa satir. Ia mengkritisi dengan sangat hati-hati. Melalui sarkasme di balik pernyataannya, ada pesan yang tajam untuk menghimbau siapa saja yang membeli buku bajakan.

Kemudian baru-baru ini, Tsana alias Rintik Sedu juga tak segan-segan mengkritik seseorang yang tak disebutkan namanya terkait dengan pembajakan buku. Dilihat dari stori Instagramnya, penulis novel "Kata" itu sangat kesal karena ada seseorang yang menandai dirinya di stori salah satu warganet yang membaca bukunya melalui e-book bajakan. Ia tak habis pikir kenapa orang tersebut berani menandai akun penulisnya langsung, sementara buku yang dibacanya tidak original.

Jika kita amati lebih jauh, fenomena pembajakan buku tak akan pernah berhenti apabila tak ada tindakan yang tegas dari para pemangku kebijakan. Orang-orang yang gemar membeli buku bajakan atau yang katanya "terpaksa" membeli buku bajakan juga tak akan pernah hilang selama penyedia buku bajakannya masih ada. Mereka membeli karena ada yang menyediakan. Mungkin yang akan hilang adalah mereka yang berani berteriak menuntut keadilan serta menyuarakan kebenaran. Eh...

Mengapa Kita Harus Membeli Buku yang Original?
Pernahkah terbersit di benakmu mengapa ada perbedaan harga yang sangat jauh antara buku original dan buku bajakan? Padahal isi tulisannya sama? 

Apabila kita mengetahui proses penerbitan sebuah buku yang memerlukan proses panjang dan tim kerja yang mendukung terbitnya satu buah buku, kita akan memahami kondisi yang sebenarnya. Tak banyak yang tahu bahwa dari terbitnya sebuah buku, banyak orang yang menggantungkan penghasilannya dari sana. Dari mulai editor naskah, layouter, percetakan, pajak, dan royalti penulis semuanya bergantung pada keuntungan penjualan buku tersebut. Bayangkan jika orang-orang lebih banyak membeli buku bajakan yang tentu saja dijual secara liar. Tim penerbit dan penulisnya sama sekali tak mendapatkan apa-apa. Sementara yang membajak meraup untung tanpa harus membayar jasa editor, desain grafis, pajak, royalti penulis, dan tim lainnya. 

Ada banyak profesi yang bergantung pada penjualan buku original. Mereka mengais rezeki dari sana. Apalagi penulis yang hanya mendapatkan royalti 10-15% per bukunya tentu saja sangat terpukul jika bukunya dibajak. Membeli buku bajakan sama saja memutus penghasilan penulis dan penerbit. 

Membeli buku original dapat memperpanjang umur penerbitan di Indonesia. Selain itu, membeli buku original dapat membuat penulis merasa dihargai dan ia bisa hidup dengan layak karena jerih payahnya terbayar dengan pantas. Juga para tim kerja di balik layar penerbitan, mereka bisa tetap menghidupi keluarganya dengan upah yang manusiawi. Betapa satu buku memiliki kekuatan jika dibeli dengan harga semestinya, dengan kejujuran, dan orisinalitas. Satu buah buku menjadi sumber inspirasi banyak orang dan sumber mata pencaharian banyak pihak. 

Jika kita tetap ngeyel membeli buku bajakan dengan alasan klise atau tanpa alasan sekalipun, itu dapat mematikan dunia kepenulisan itu sendiri. Cepat atau lambat. Apabila tak ada penghargaan yang pantas atas pekerjaan yang dilakukan dengan keras, kreatif, dan bermanfaat maka jangan heran jika banyak yang mundur satu persatu. Lalu bagaimana nasib dunia kepenulisan di negeri ini jika pembacanya saja tak menghargai karya penulisnya dengan layak?

Sebuah Solusi untuk Kamu yang Ingin Baca Buku Original Tanpa Harus Membeli Buku Bajakan

Rasanya kurang lengkap apabila memaparkan akar permasalahan tanpa memberikan jalan alternatif sebagai solusinya. Alasan yang sering diungkapkan di balik pembelian buku bajakan adalah soal keuangan. Sebagian orang merasa bahwa uangnya tak cukup untuk membeli buku original sehingga terpaksa membeli yang bajakan. Memang akses menuju pengetahuan butuh modal. Tidak kita pungkiri bahwa sumber daya utama untuk menikmati buku original adalah keuangan yang cukup. Tak semua orang bisa berada di posisi ini. Namun, selalu ada jalan keluar di tengah badai permasalahan. 

Untuk menikmati buku original secara gratis, kita bisa menggunakan fasilitas perpustakaan. Baik itu perpustakaan yang ada di sekolah atau di kampus, perpustakaan daerah, maupun perpustakaan yang bisa diakses secara virtual seperti ipusnas. Kita bisa menemukan banyak referensi bacaan di sana secara cuma-cuma. Namun sayangnya, buku-buku perpustakaan tak bisa dibawa pulang selamanya.

 Jika kita ingin memiliki buku original secara gratis apa bisa?

 Apabila kita ingin mendapatkan buku original secara gratis ada beberapa cara yang bisa dicoba. Misalnya dengan mengikuti give away buku yang ada di media sosial. Meskipun kemungkinan menang give away itu tidaklah besar, tapi apa salahnya mencoba?

Kemudian, ada cara lain yang bisa dicoba sembari menunggu pengumuman pemenang give away yakni mendaftar beasiswa buku yang disediakan oleh Minerva.id. Atau, kita juga bisa mengirimkan resensi buku yang pernah kita baca ke beberapa platform yang menyediakan hadiah voucher belanja buku seperti Balai Buku Progresif, Berdikaribook, dan Basabasi.co. 

Mengetahui akses baca buku yang legal dapat menghindarkan kita dari perilaku jahat membeli buku bajakan. Tidak ada masalah yang tak dapat diatasi. Tanpa terkecuali masalah keuangan. Kita bisa mencegah keinginan membeli buku bajakan dengan mencoba cara-cara di atas. Namun, jika alasannya bukan alasan keuangan, seperti keinginan kolot untuk tetap membeli buku bajakan dengan alasan personal yang tak masuk akal maka penting menyadari bahwa keinginan itu bisa mematikan sumber kehidupan orang lain. Membeli buku original adalah salah satu bentuk amal shaleh. Maka membeli buku bajakan adalah suatu kejahatan yang dapat menyengsarakan orang lain. 

Jadi, kamu mau memilih jalan yang mana? Menyusuri jalan sunyi amal shaleh atau melewati jalan riuh kejahatan yang memberangus profesi orang lain?

Comments

Populer

Psikologi pada Masa Yunani Kuno

Resume Buku: Sufi Dari Zaman Ke Zaman

Teori Harapan

Akal Manusia Itu Totalitas atau Terbatas?

Kajian Psikologi tentang Proses Berpikir Manusia

Hal-hal yang Bisa Kamu Lakukan di Semester Muda

Nahdlatun Nisa : Strategi Gerakan Kopri Menghadapi Revolusi Industri 4.0