Menulis Sebagai Jalan Menenangkan Diri

Aku cukup lelah minggu ini, banyak hal yang membuatku tak terlalu mengurus tubuh kurusku. Sejenak aku merenung, mengatur napasku, dan mencoba menenangkan pikiranku. Konsep diri yang aku canangkan masih berantakan, terlalu idealis, terlalu jauh untuk dicapai, dan masih terlalu rumit untuk direalisasikan.

Motivasi-Menulis.jpg
sumber: www.kolomsatu.com

Beberapa waktu terakhir aku sengaja mengeyampingkan urusan asmara. Jujur, langkah tersebut memudahkan gerakanku. Aku tidak tahu apakah caraku salah dalam memperjuangkan seseorang yang menurutku istimewa. Namun begitu, aku selalu percaya bahwa cinta akan membawa tuannya memperjuangkan kebahagiaan untuk seseorang yang dicintainya. Bukankah aku sering mengatakan bahwa semua tindakan memiliki konsekuensi? Termasuk terkait cinta? Bukankah konsekuensi selalu ada? tetapi, aku tidak peduli. Aku tidak takut dengan konsekuensi, karena nyatanya konsekuensi yang membuat hidup seseorang semakin kokoh.

Rencana selanjutnya bukan terkait asmara, aku masih punya tugas untuk mengurus diriku sendiri. Kasihan, sudah semakin kurus, sudah semakin tak terurus, dan sudah semakin tertinggal oleh arus. Aku jadi teringat dengan buku-buku yang sudah aku baca, entah isinya lari pada bagian otak yang mana. Lenyap begitu saja, lalu muncul ketika aku membutuhkannya. Begitulah Tuhan mengkonsep logikaku, harus disyukuri bagaimanapun kondisinya.

Tulisanku masih semrawut, bagian yang paling malas aku kritisi. Aku terbiasa menulis mengalir, menulis lagi sampai aku benar-benar tenang, sampai aku benar-benar bebas, sampai aku benar-benar sadar, dan sampai aku benar-benar merasa harus menulis lagi. Setiap orang pasti memiliki cara tersndiri untuk menenangkan dirinya; dan aku memilih menulis.

Sebenarnya aku ingin menyesal, tetapi aku sadar tidak ada yang perlu disesali. Termasuk bagian kehilangan sekalipun. Banyak hal yang membuat diri merasa harus belajar. Semua orang pasti memiliki mimpi, tetapi tidak semua orang mau bangun dari tidurnya untuk mewujudkan mimpinya. Sejak awal aku memilih bermimpi dengan mata terbuka, karena itu lebih realistis.

Kadang, aku ingin menentang banyak orang yang membatasi proses belajar. Aku tidak mau terkungkung pada satu kelompok yang membuatku fanatik, buta akan realita, dan tertinggal karena enggan terbuka. Aku ingin menembus batas-batas yang dibuat oleh sebagian orang. Akan tetapi, lingkungan sosial selalu memperlambat langkahku. Aku berjalan semakin pelan, karena berjalan tanpa berpikir harus kemana adalah tindakan bodoh.

Tidak jarang terbesit di kepalaku, seseorang yang dengan bahagia mau mendampingiku masuk ke perpustakaan. Membaca buku-buku filsafat, agama, politik, sosial, psikologi, ekonomi, pendidikan, dan buku-buku keren lainnya. Sejak SD, aku belum menemukan seseorang yang mau kuajak untuk pergi ke perpustakaan, duduk berjam-jam, dan saling mencarikan buku yang disukai.

Ah, aku masih sama seperti ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, saat dimana aku suka sekali membaca buku-buku sejarah negeri ini. Aku masih sama, perempuan kaku yang selalu berlebihan meminjam buku, membacanya sendirian, menikmati aksara-aksara tanpa teman, dan merasakan bahwa meskipun membaca sendirian tidak membuatku kesepian.
            Semarang. 13 Juni 2016

Comments

Populer

Psikologi pada Masa Yunani Kuno

Resume Buku: Sufi Dari Zaman Ke Zaman

Teori Harapan

Akal Manusia Itu Totalitas atau Terbatas?

Kajian Psikologi tentang Proses Berpikir Manusia

Cara Mendapatkan Buku Gratis Agar Tidak Membeli Buku Bajakan

Hal-hal yang Bisa Kamu Lakukan di Semester Muda

Nahdlatun Nisa : Strategi Gerakan Kopri Menghadapi Revolusi Industri 4.0