Psikologi pada Masa Yunani Kuno




Menurut asal katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno (Psychē yang berarti jiwa) dan logos yang artinya ilmu, sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa

Menurut J. B. Watson, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku lahiriah dengan menggunakan metode observasi yang objektif terhadap rangsangan. Sedangkan Wilhem Wundt,  psikologi adalah ilmu yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul pada diri manusia, seperti perasaan panca indra, pikiran, feeling, dan kehendak.

Sebagai ilmu pengetahuan, psikologi memiliki perjalanan yang sangat panjang. Konsep psikologi sendiri sudah dibangun sejak zaman Yunani Kuno atau pada masa filsuf-filsuf seperti Aries Toteles, Plato, Thales, dan lain sebagainya. Pada masa ini psikologi memang belum menjadi ilmu yang mandiri, akan tetapi rumusan tentang jiwa sudah mulai dibahas pada jaman filsuf ini. 

Filsafat sudah membahas gejala-gejala kejiwaan sejak 600-500 SM. Diantaranya ialah:
  • Thales (642-84 SM) mengartikan jiwa sebagai sesuatu yang supernatural. Menurutnya jiwa itu tidak ada karena yang ada di alam hanyalah gejala alam dan menurut Thales gejala alam berasal dari air
  •  Anaximander (611-546 SM) mengatakan bahwa segalanya berasal dari apeiron, yang artinya tak terbatas, tak terbentuk, tak bisa mati, yaitu seperti konsep tentang Tuhan di zaman kita sekarang. Maka Anaximander berpendapat bahwa jiwa itu ada.
  •  Anaximenes (490-430 SM) menurutnya segala sesuatu itu berasal dari udara dan dia mendukung konsep dari Anaximander bahwa jiwa itu ada.
  • Empedokles (490-430 SM)
          Ada 4 elemen dasar alam: Udara, Tanah(bumi), Air, dan Api
            Sedangkan manusiapun bisa dianalogikan seperti berikut:
-        Tulang/otot/usus (bumi/tanah)
-        Fungsi hidup (udara)
-        Rasio (Api)
-        Cairan Tubuh (Air)
  • Hipokrates (460-375 SM) menganggap bahwa jiwa manusia itu ada 4 tipe penggolongongan menurut cairan tubuh yang dominan yaitu:
-        Sanguine (periang) didominasi oleh darah
-        Melankolis (murung) sumsum hitam
-        Kolerik (cepat bereaksi) sumsum kuning
-        Plegmatis (lamban) lendir
  • Demokritus (460-370 SM) mempunyai pandangan bahwa segala sesuatu yang berada didunia ini terdiri dari partikel-partikel yang tidak dapat dibagi-bagi. Cara berpikirnya mengikuti prinsip-prinsip mekanistis dan materialistis. Menurutnya jiwa itu terdiri dari atom-atom.
Ada dua pandangan,  yang pertama yaitu pandangan monoism yang berarti pandangan terhadap jiwa dan badan berasal dari unsur-unsur yang sama dan tunduk pada hukum-hukum yang sama. Sedangkan, pandangan yang kedua yaitu dualism jiwa tidak sama dengan badan. Keduanya tunduk pada hukum-hukum yang terpisah.
 
Berikut ini ialah tokoh filsuf yang berperan penting terhadap perkembangan ilmu psikologi ratusan tahun kedepan ialah tiga serangkai yaitu Socrates(469-399 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM). Plato adalah murid Socrates, dan Aristoteles adalah murid Plato. Ketiga tokoh tersebut adalah penganut paham dualism.
  • Sokrates ( 469-399 SM) memperkenalkan teknik maeutics, yaitu wawancara untuk menggali keluar pikiran-pikiran dari seseorang. Ia percaya bahwa pikiran-pikiran itu mencerminkan keberadaan jiwa di balik tubuh manusia.
  • Plato (427-347 SM) adalah penganut dualisme. Ia mengatakan bahwa dunia kejiwaan berisi ide-ide yang berdiri sendiri dan terlepas dari pengalaman hidup sehari-hari. Jiwa yang berisi ide-ide diberi nama “psyche”. Plato mengatakan bahwa jiwa “psyche” terdiri dari 3 (tiga) bagian, yaitu Logisticon (akal) yang berpusat di kepala, Thumeticon (rasa) yang berpusat di dada, dan Abdomen (kehendak) yang berpusat di perut. Pembagian tersebut disebut dengan trichotomi dari Plato.
          Bagi Plato fungsi berpikir (Logisticon) yang paling penting dalam jiwa manusia. Keadaan jiwa  seseorang dan arah perkembangan jiwa orang itu dipengaruhi terutama oleh fungsi berpikir dari seseorang. Pendapat Plato tersebut membuatnya disebut sebagai rasionalis atau penganut paham rasionalisme, yaitu paham yang mementingkan rasio (akal) di atas fungsi-fungsi kejiwaan yang lain.
  • Aristoteles (384-322 SM) memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu yang berbentuk kejiwaan (form) harus menempati suatu wujud tertentu (matter). Wujud ini hakikatnya merupakan pernyataan atau ekspresi dari jiwa. Hanya Tuhan satu-satunya yang tanpa wujud. Tuhan adalah “form” saja tanpa “matter”. Pandangannya tersebut, membuat Aristoteles disebut sebagai penganut paham empirisme. Kaum empirisme meyakini bahwa segala sesuatu harus bertitik tolak dari realita, yaitu dari “matter” itu. “Matter” yang dapat diketahui melalui pengamatan atau pengalaman empiris merupakan sumber utama pengetahuan. Dengan pendapatnya ini, Aristoteles sering disebut sebagai “Bapak Psikologi”.
Aristoteles juga menyumbangkan pikiran yang sangat penting dalam tulisannya yang berjudul “The Anima”. Dia mengatakan bahwa makhluk hidup terbagi dalam tiga golongan, yaitu:
  1. Anima Vegetativa (tumbuh-tumbuhan);
  2. Anima Sensitiva (hewan); hewan memiliki indera (sensitiva)
  3. Anima Intelektiva (manusia); manusia memiliki kemampuan mengingat (mneme) menunjukkan bahwa manusia memiliki kecerdasan (intelek).



Comments

Populer

Resume Buku: Sufi Dari Zaman Ke Zaman

Teori Harapan

Akal Manusia Itu Totalitas atau Terbatas?

Kajian Psikologi tentang Proses Berpikir Manusia

Cara Mendapatkan Buku Gratis Agar Tidak Membeli Buku Bajakan

Hal-hal yang Bisa Kamu Lakukan di Semester Muda

Nahdlatun Nisa : Strategi Gerakan Kopri Menghadapi Revolusi Industri 4.0