Orang-orang yang Sibuk dengan Dirinya Sendiri

Semua orang berbicara tentang manusia, namun tidak semua orang membicarakan kemanusiaan. Semua orang selalu sibuk dengan urusannya. Tidak peduli jika dua kalimat pertama tadi dianggap spekulasi yang tidak jelas. Bukankah kejelasan tidak membutuhkan spekulasi? Atau memang benar hanya spekulasi yang memerlukan kejelasan?



Pernah pada suatu hari di sebuah tempat yang ramai, aku turun dari mini bus merah. Hujan turun lumayan deras, aku berlari mencari tempat berteduh di dalam pasar tradisional. Sore itu tepatnya pukul 17.00 aku memandangi seorang perempuan yang kurang lebih berusia 45 tahunan masih sibuk mengemasi dagangannya. Aku duduk tepat di sebelah ia berjualan, dagangannya masih banyak yang belum laku. Satu demi satu sayur-sayuran itu dimasukkan kedalam karung.

“Bu, jam segini baru pulang?” tanyaku heran karena biasanya aku ke pasar ini jam 14.00 aja sudah sepi pembeli. “Enggak, Mbak. Ini karena terjebak hujan jadi saya masih di sini.” Aku berniat membeli beberapa ikat sawinya, beliau terlihat sumringah sekali. Setelah itu aku duduk lagi di antara keranjang-keranjang, sementara ibu tadi kembali sibuk dengan barang-barangnya.

Pelan-pelan aku melangkah ke depan, di samping pedagang buah. Hujan masih deras. Jalanan macet. Aku tertegun mengamati orang-orang yang ada di sekelilingku. Raut wajah penuh harapan, harapan untuk segera sampai tujuan. Wajah-wajah penuh kekhawatiran, kekhawatiran akan urusan-urusannya yang harus secepatnya ia selesaikan. Wajah penuh ketakutan, ketakutan karena macet, takut lecet, takut tidak tepat janji, dan takut tidak tepat waktu, serta takut anak yang digendongnya sakit.

Hujan masih deras, orang-orang masih sibuk dengan urusannya. Sementara aku sibuk mengurusi urusan orang lain, terheran-heran sendirian di pinggir jalan, kehujanan, ketakutan karena tidak bisa menyeberang jalan, dan aku pun turut terjun menyibukkan diri dengan urusanku. Urusan sepele yang harus berlomba-lomba dengan urusan sepele orang lain. Jalan satu-satunya macet, semua orang melewati jalan itu untuk menuju tujuannya, untuk melaksanakan urusannya. Ah, betapa semua orang sibuk dengan dirinya sendiri.

Aku sudah di seberang jalan. Di depan gang, aku tertegun lagi. Kehujanan. Kedinginan. Di sana, di depan toko yang tutup terbaring laki-laki tua yang kira-kira usianya lebih dari 60 tahun. Ia tertidur lelap, alas kepalanya hanya sebuah kantong plastik entah berisi apa aku tak tahu. Aku tidak tahu tidurnya nyenyak atau tidak. Wajahnya yang sudah keriput menyiratkan kekhawatiran. Bertahan hidup dari hari ke hari. Makan dan tidur di jalanan. Panas hujan terlewatkan. Apakah dia punya mimpi? Setidaknya ia ingin bisa berganti pakaian? Atau setidaknya ia ingin bisa makan tiga kali sehari? Atau mungkin dia punya mimpi luar biasa yang tidak bisa aku tebak? Bukankah setiap manusia memiliki motivasi hidup yang berbeda? Mimpi yang berbeda? Apakah setiap orang mempunyai mimpi? Termasuk orang yang putus asa?

Itu hanya spekulasiku. Ya, spekulasi! Apakah harus selalu dijelaskan, jika spekulasi itu sudah sangat jelas?

Baca juga tulisan lainnya di kategori Curahan Pikiran (Curpik):

Comments

Populer

Psikologi pada Masa Yunani Kuno

Resume Buku: Sufi Dari Zaman Ke Zaman

Teori Harapan

Akal Manusia Itu Totalitas atau Terbatas?

Kajian Psikologi tentang Proses Berpikir Manusia

Cara Mendapatkan Buku Gratis Agar Tidak Membeli Buku Bajakan

Hal-hal yang Bisa Kamu Lakukan di Semester Muda

Nahdlatun Nisa : Strategi Gerakan Kopri Menghadapi Revolusi Industri 4.0